Thursday, February 28, 2013

Jadwal Pelatihan Kurikulum 2013

0 comments
Perbincangan Kurikulum 2013 memasuki babak baru, yaitu soal implementasi. Dalam berbagai kesempatan, para guru yang ikut serta dalam kegiatan sosialisasi, menyatakan sudah siap melaksanakan Kurikulum 2013. Menurut pihak Kemdikbud konsep pelatihan para guru dalam menghadapi kurikulum 2013 akan dilakukan dengan menggunakan metode master teacher. Guru-guru berprestasi dan memiliki skill atau kemampuan mengajar yang baik akan dilatih terlebih dahulu untuk kemudian menyampaikan ilmu yang didapat kepada guru yang lain.

Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mohammad Nuh, dalam rangka persiapan penerapan kurikulum baru pada pertengahan Juli 2013, pelatihan guru inti dan instruktur nasional akan segera dilakukan pada bulan Mei mendatang bertepatan dengan libur tahun ajaran. Dengan demikian, guru yang mendapat kesempatan sebagai guru inti dapat menjalani pelatihan dengan baik.



Beliau juga mengatakan bahwa jadwal pelatihan kurikulum 2013 antara April dan Mei ini melalui beberapa pertimbangan yaitu guru tidak ada beban mengajar karena siswa sedang libur dan sekolah bisa digunakan sebagai tempat pelatihan sehingga tidak memakan banyak biaya.

Tiga hal yang penting dalam pelatihan guru ini adalah materi pelatihan, target guru yang dilatih, dan metode pelatihan yang digunakan. Guru yang mendapat prioritas pelatihan adalah guru kelas I, IV, VII, dan X dengan materi seputar konsep kurikulum baru.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) akan tetap melakukan pendampingan kepada guru yang telah mendapat pelatihan Kurikulum 2013. Pendampingan dilakukan agar proses kegiatan belajar mengajar di dalam kelas berjalan dengan baik dan sesuai dengan yang diharapkan. Dari pendampingan itu pula dilakukan monitoring dan evaluasi (monev) untuk mengetahui apakah perlu ada koreksi dari proses pembelajaran yang dilakukan guru kepada peserta didik.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) telah menetapkan para guru calon peserta pelatihan implementasi kurikulum 2013. Musliar menyebutkan, untuk jenjang sekolah dasar (SD) guru sasaran pelatihan sebanyak lima orang guru per satu rombongan belajar termasuk kepala sekolah. Guru yang dilatih adalah guru kelas 1, guru kelas 4, guru agama, dan guru pendidikan jasmani di masing-masing sekolah yang sudah terpilih. “Guru sasaran adalah guru yang akan melaksanakan kurikulum itu sendiri,” katanya.

Adapun untuk jenjang sekolah menengah pertama (SMP) meliputi kepala sekolah, guru agama, guru pendidikan jasmani, guru seni budaya, guru IPA, guru IPS, guru bahasa Inggris, guru bahasa Indonesia, guru PKN , guru matematika, dan guru prakarya . “Mata pelajaran di SMP disederhanakan menjadi 10. Guru yang akan dilatih 11 orang guru untuk kelas VII,” kata Musliar.

Khusus untuk mata pelajaran IPS, sekolah harus memilih salah satu guru yaitu guru sejarah, guru geografi, atau guru ekonomi. Demikian juga halnya untuk mata pelajaran IPA. Selain guru, pengawas juga diberikan pelatihan. Bagi guru yang mengajar tidak hanya di kelas VII saja, tetapi juga mengajar di kelas VIII dan IX harus memprioritaskan mengajar di kelas VII terlebih dahulu.

“Sepanjang sudah semua kelas VII itu diajarnya, kalau masih belum cukup mengajar, silakan mengajar di kelas VIII, tetapi materi yang akan diajarkan di kelas VII harus didapatkan oleh murid dengan guru yang sudah kita latih tersebut,” kata Wamen.

Adapun untuk jenjang sekolah menengah atas (SMA) dan sekolah menengah kejuruan (SMK) jumlah guru yang dilatih minimal sebanyak lima orang termasuk kepala sekolah meliputi guru matematika, guru bahasa Indonesia, guru sejarah, dan guru bimbingan konseling (BK). “Kenapa guru BK perlu dilatih ? karena guru BK ini ke depan akan berperan besar terutama di dalam menentukan peminatan yang akan dipilih oleh siswa,” katanya.

Seperti diketahui, pada jenjang SMA tidak akan ada lagi penjurusan IPA, IPS, dan bahasa seperti dilaksanakan sekarang ini. Melainkan berupa peminatan yang dipilih oleh peserta didik. Pemilihan peminatan dilakukan saat baru mulai masuk sekolah. “Pertama masuk mereka akan mendapatkan sembilan mata pelajaran pokok. Kemudian ditambah dengan empat mata pelajaran peminatannya dan dia diberikan kesempatan untuk memilih dua mata pelajaran berikutnya,” kata Musliar.

Anggaran

Kesenjangan terlihat dalam pengalokasian anggaran untuk persiapan pelaksanaan kurikulum 2013. Jika untuk buku dialokasikan Rp1 triliun lebih, untuk diklat guru yang akan menjadi ujung tombak kurikulum di lapangan, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan hanya menyiapkan dana sekitar Rp422 miliar.

Anggaran diklat guru ini tertuang dalam kebutuhan anggaran diklat guru yang dipaparkan Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Musliar Kasim di depan panitia kerja kurikulum DPR, di Senayan, Selasa (15/1).

Dalam dokumen desain induk kurikulum 2013 itu disebutkan, total kebutuhan guru jenjang SD 240.886 yang terdiri dari kepala sekolah, guru kelas I dan IV serta guru penjas dan agama. Dana yang dibutuhkan Rp120.442.950.000 dengan asumsi harga satuan diklat guru Rp500 ribu.

Untuk jenjang SMP kelas 7, dengan jumlah kebutuhan guru 342.939, butuh dana Rp171.469.500.000. "Itu kebutuhan anggarannya," kata Musliar Kasim memaparkan di depan anggota Panja kurikulum DPR.

Sementara rancangan kebutuhan anggaran pelatihan manajemen satuan pendidikan SMA 2013, sesuai dengan dana yang tersedia, dialokasikan Rp14.830.813.000. Sedangkan untuk SMK dialokasikan Rp13.272.073.000.

Nah, khusus rancangan kebutuhan pelatihan kurikulum SMA/SMK 2013 dibutuhkan anggaran Rp102.768.000.000. Rinciannya adalah pelatihan kurikulum bagi PTK SMA untuk 34.605 orang guru, butuh biaya Rp55.368.000.000.

Kalau di PTK SMK untuk 29.625 orang guru butuh biaya Rp47.400.000.000. Masing-masing dilaksanakan di sekolah selama 5 hari tanpa menginap. Sehingga total keseluruhan mencapai Rp422.783.336.000.

Metode dan Instruktur

Ada dua metode pendampingan yang disusun pemerintah, yakni pendampingan secara langsung dan pedampingan online. Pendampingan secara langsung itu lebih ke observasi yang dilakukan para guru inti. Guru inti akan mengamati dan menilai secara langsung apa kekurangan dari guru-guru itu saat mengajar.

Seperti diketahui, pemerintah akan menggunakan metode master teacher dalam diklat tersebut. Pemerintah akan menunjuk 666 orang dari kalangan dosen PLPG untuk dijadikan instruktur nasional yang akan diberi pelatihan oleh narasumber nasional.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) merekrut 660 orang instruktur nasional untuk menjadi pelatih kurikulum 2013 bagi guru-guru inti. Mereka kata Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kemendikbud Syawal Gultom berasal dari dosen, widya iswara dan guru teladan yang memiliki catatan prestasi tingkat nasional.

Menurut Syawal, meski kurikulum 2013 relatif lebih mudah dibanding kurikulum 2006 tetapi pelatihan tetap dibutuhkan. Karena ada materi-materi dan ketrampilan guru yang harus dipertajam untuk melaksanakan kurikulum 2013.
“Saya yakin semua guru memiliki kemampuan mengajar sesuai tuntutan kurikulum 2013. Tetapi kita tetap harus membangkitkan motivasi para guru,” lanjutnya.

Tahapan pelatihan kurikulum 2013 akan dimulai bulan April bagi instruktur nasional, Mei bagi guru inti dan pada Juni bagi guru kelas dan mata pelajaran. Pelatihan dilakukan selama 5 hari berturut-turut atau setara dengan 52 jam.

Syawal mengingatkan bahwa pelatihan intinya adalah memperbaiki kompetensi guru. Dengan kata kunci bagaimana guru bisa mengubah sikap, ketrampilan dan pengetahuan siswa selama proses pembelajaran berlangsung,” tukas Syawal.

Instruktur nasional ini lanjut Syawal nantinya akan menjadi pelatih bagi 40 ribu guru inti yang merupakan perwakilan dari kabupaten/kota. Selanjutnya guru inti ini akan menjadi pelatih bagi 712 ribu guru kelas dan guru mata pelajaran di sekolah-sekolah.


Sumber : Kemdikbud dan media lainnya yang mendukung



Read more

Jadwal Diklat Online 2013 Belum Disusun

0 comments
Pemerintah berkeyakinan bahwa uji kompetensi guru (UKG) merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kompetensi profesionalitas guru. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) akan menindaklanjuti hasil pemetaan terhadap Uji Kompetensi Guru (UKG). Tindak lanjut ini dilakukan dengan menyelenggarakan pendidikan dan latihan secara daring (online) pada 2013.

Pernyataan tersebut disampaikan Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan Syawal Gultom bulan Agustus 2012. Beliau mengatakan, materi diklat dirancang berdasarkan hasil pemetaan meliputi proses mempelajari materi, melatihkannya, dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sudah disiapkan untuk mengukur perubahan kompetensi pada guru.





Diklat secara daring dilakukan karena keterbatasan dana untuk menyelenggarakan diklat secara tatap muka dengan jumlah guru yang banyak. Padahal, semua guru wajib melakukan pembinaan keprofesian secara individual maupun kelompok, oleh diri sendiri maupun oleh pemerintah.

Latar belakang penyelenggaraan diklat secara daring tersebut karena mahalnya diklat tatap muka langsung. Kalau modul interaktif komputer atau sistem online tidak terlalu mahal. Jadi bisa menjangkau semua guru nantinya.

Lebih jauh Syawal menambahkan, Diklat tersebut akan dilakukan secara terus menerus untuk memenuhi kompetensi minimal. Perancangan diklat berbasis analisis UKG yaitu adalah pada kesulitan yang dialami oleh guru dan kompetensi-kompetensi apa saja skor guru rendah. Kemudian, pada indikator apa guru mengalami kelemahan.

Menurut Ketua Umum Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Sulistyo janji Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melakukan diklat kompetensi guru tersebut tidak pernah terwujud. Jadwal diklat online guru belum disusun (Red.)

Beliau juga mengatakan, guru-guru di daerah hingga kini masih terus menagih janji Kemdikbud itu, bukan malah menggabungkannya dengan diklat guru untuk implementasi kurikulum 2013.

Menurutnya, seyogyanya diklat itu ada dua, peningkatan kompetensi sebagai tinjak lanjut UKG, dan kedua diklat untuk implementasi kurikulum, demikian kata Sulistyo di kantornya, Rabu (20/2).




Read more
Tuesday, February 26, 2013

Pembinaan Guru Agama Diambil Kemdikbud

0 comments
Selama ini posisi guru agama di sekolah umum (SD, SMP, SMA, dan SMK) tidak jelas. Institusi tempat mereka bekerja ada di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud). Sedangkan secara kepegawaian, mereka ada di bawah Kementerian Agama (Kemenag).

Posisi guru agama yang berada di bawah dua kementerian itu memang tidak menguntungkan mereka. Mulai dari unsur pembinaan, peningkatan karir, hingga penguatan kompetensi keguruan. Ada sejumlah guru agama yang sulit naik pangkat, karena terbelit birokrasi yang cukup rumit.

Kemdikbud saat ini sedang menggodok ketentuan baru terkait keberadaan guru agama di sekolah umum. Kementerian yang dipimpin Mohammad Nuh itu berencana akan mengambil alih wewenang pembinaan dari tangan Kemenag. Paling cepat, upaya ini mulai dijalankan tahun ajaran 2013-2014 nanti.

Menanggapi rencana tersebut, pihak Kementerian Agama (Kemenag) menyatakan legawa. Direktur Jenderal Pendidikan Islam (Dirjen Pendis) Kemenag Nur Syam mengatakan, tidak jadi persoalan ketika urusan pembinaan guru agama di sekolah umum itu diambil alih Kemendikbud.

"Tetapi saya tekankan, tidak serta merta wewenang pembinaan itu diambil alih seluruhnya oleh Kemendikbud," ujar mantan rektor IAIN Sunan Ampel, Surabaya itu. Nur Syam mengatakan, Kemenag tidak mempersoalkan pengambilalihan wewenang itu sebatas untuk urusan pembinaan karir saja.

Sikap Kemenag yang siap menyerahkan urusan pembinaan karir itu, tidak terlepas dari polemik yang mucul saat ini. Diantaranya adalah, peningkatan jenjang karir guru agama di sekolah swasta yang cenderung lama.

Sebaliknya, Nur Syam meminta jika untuk pembinaan dan penetapan kompetensi guru agama tetap ada di tangan mereka. "Kalau karir oke, tetapi untuk penentuan kompetensi guru agama seperti apa itu ada di kami (Kemenag)," tandasnya. Ini tidak terlepas dari ketentuan undang-undang jika urusan keagamaan dan pendidikan keagamaan ada di bawah naungan Kemenag.


Sumber: Jawa Pos



Read more

Diklat Kompetensi Guru Belum Dijadwalkan

0 comments
Pemerintah telah melakukan UKG tahap I dan tahap II tahun 2012 lalu, baik secara online atau manual. Namun rencana Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melakukan diklat kompetensi guru tidak pernah terwujud.

Ketua Umum Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Sulistyo mengatakan, guru-guru di daerah hingga kini masih terus menagih janji Kemdikbud itu, bukan malah menggabungkannya dengan diklat guru untuk implementasi kurikulum 2013.

"Masalah diklat guru, kami ingatkan pemerintah, seyogyanya diklat itu ada dua, peningkatan kompetensi sebagai tinjak lanjut UKG, dan kedua diklat untuk implementasi kurikulum," kata Sulistyo di kantornya, Rabu (20/2).

Dua hari lalu, Menteri Pendidikan Mohammad Nuh mengatakan untuk persiapan implementasi kurikulum rencananya pemerintah akan melatih guru secara nasional. Nah, anggarannya menggunakan alokasi diklat guru yang sudah dianggarkan dalam APBN.

Kuat dugaan anggaran tersebut merupakan alokasi untuk diklat guru pascapelaksanaan UKG yang kemudian dialihkan untuk diklat guru sebagai persiapan kurikulum 2013.

"Kalau disatukan, mestinya porsi waktunya disesuaikan. Jangan dimanipulasi (antara diklat UKG dengan kurikulum, red)," tegas Sulistyo.

Ditanya mengenai tanggapan PGRI terkait rencana pemerintah yang tetap akan menerapkan kurikulum 2013 pertengahan Juli nanti, pihaknya mengaku kalau itu tetap dijalankan pemerintah, PGRI hanya bisa mendorong guru mengikutinya.

"Guru tidak mungkin mengatakan tidak ketika pemerintah menyatakan siap menjalankan kurikulum. Tapi persiapannya yang harus diperhatikan. Guru siap untuk sosialisasi, siap mengkaji dokumen, mengikuti diklat dan mengelola proses pendidikan," ujarnya. Tentunya ini semua agar segenap proses dapat berjalan dengan lancar.

Sumber: Jawa Pos



Read more
 
Diklat Online © 2011 Bank Soal & World Sharings. Supported by Google docs viewer

Thanks for All friends